Bagikan Artikel

GANDUS | KSOL — Menjelang waktu Isyak, pukul 19.10 WIB, Minggu (22/03/2020), Mushola Huzaibah Salim, Komplek 87 Residence RT 06 Gandus Palembang, sudah diramaikan puluhan jemaah dari berbagai usia. Anak-anak, remaja, ibu-ibu dan sebagian lagi bapak-bapak.

“Ini pertama kami buat acara peringatan Isra’ Mi’raj di Mushola kami,” ujar Nur Wahid, S.Sos, Ketua Pengurus Mushola Huzaibah Salim, dalam obrolan kecil malam itu, jelang peringatan Isra’ Mi’raj.

Meski informasi tentang larangan berkumpul di keramaian terkait virus covid-19 bergulir di sejumlah media, namun warga 87 Residence Gandus Palembang tetap menggelar acara tahunan itu, apalagi event ini baru kali pertama digelar sejak berdirinya mushola beberapa waktu lalu.

“Saat awal datang ke mushola ini, aku ragu nak salaman, takut ditolak karena ado corona,” ujar Ustadz Imron Supriyadi, S. Ag, M. Hum, Pengasuh Pesantren Rumah Tahfidz Rahmat Palembang, yang malam itu didaulat panitia menjadi penceramah.

Di hadapan puluhan jemaah, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, di awal ceramahanya mengajak jemaah untuk selalu mengucapkan syukur alhamdulillahirobbil ‘alamiin.

Sebab, di tengah hingar bingarnya informasi tentang corona yang diantaranya meninggal dunia, namun jemaah Mushola Huzaibah Salim Gandus Palembang masih dalam keadaan sehat wal ‘afiat.

“Kalau malam ini kita masih diberi hidup, artinya Allah SWT masih memberi kesempatan kita untuk berbuat baik. Marilah kesempatan yang baik ini, kita jadikan dunia sebagai ladang kebaikan untuk bekal akhirat. Addunya mazro’atul akhiroh : dunia ini sebagai ladang untuk bertanam bekal akhirat,” ujarnya.

Terkait dengan peringatan Isra dan Mi’raj, ayah dari satu putri dan dua putra ini mengajak jemaah agar bersyukur dengan adanya peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebab melalui peringatan ini, Allah SWT memberi hidayah bagi umat Islam tentang bagaimana kita bersyukur.

“Salah satu cara kita bersyukur adalah dengan menjalankan perintah Allah SWT, yaitu menegakkan shalat lima waktu, sesuai dengan isi peringatan isra’ dan Mi’raj, yaitu perintah Shalat. Shalat itu tiang agama,” tambah Imron.

Sesuai dengan hadist Rasul :
Ash-sholatu ‘imaa dud-diin. Faman aqomaha, faqod aqoomad-diin. Waman tarookahaa, faqod hadaamad-diin” (Siapa yang mendirikan shalat, merekalah yan sedang mendirikan agama, dan bagi siapa yang tidak mendirikan shalat, merekalah yang sedang merobohkan agama).

Mengapa kita harus bersyukur dengan mendirikan shalat?
Menurut alumnus Pondok Pesantren Islam As-Salaam Surakarta ini menegaskan, karena Allah Swt sudah memberi semua kebutuhan manusia dengan sempurna, jauh sebelum manusia itu meminta kepada Allah Swt.

“Napas kita, darah kita, urat nadi kita, jantung kita dan semua yang bergerak dalam diri kita selama putaran 24 jam sehari senalam, semua diatur Allah Swt dengan sangat baik dan teratur, tanpa kita minta sebelumnya. Apa pernah kita minta dihidupkan setelah kita mati sementara saat kita tidur? Lalu kita minta kepada Allah Swt : Ya, Allah kembalikan nyawa saya, karena saya akan bekerja? Tidak kan? Tapi dengan sangat bijak dan baik, Allah Swt mengatur semuanya, kapan kita tidur, kapan kita tidur, kapan kita harus buang air besar dan kapan kita harus buang air kecil. Semua diatur sedemikian rupa oleh Allah Swt dengan sangat sempurna, tanpa kita minta sebelumnya. Semua itu diatur oleh Allah Swt dengan biaya gratis,” tegasnya.

Dari berbagai kenikmatan yang sudah Allah Swt berikan kepada kita, sangat layak kalau kita wajib bersyukur, karena Allah Swt tidak pernah menagih biaya berapa harga detak jantung dan napas kita sejak lahir sampai kita berada di tempat ini.

 

“Kalau kito hitung berapo nian hargo detak jantung kito sejak lahir sampai kito hidup saat ini? Dak bakal kito tebayar. Semua gratis. Bahkan Allah Swt menyatakan : Wa In ta’udduu ni’matallahi La Tuhsuuhaa : Sekiranya engkau hintung nikmat Allah, maka engkau tidak pernah akan bisa menghitungnya. Apa pernah kito menghitung jumlah rambut kito? Apakah pernah kito berpikir bagaimana makanan yang masuk dalam perut kita ini, mana yang akan bermanfaat dan mana yang akan menjadi racun, yang besok pagi akan kito buang lewat buang air kecil dan buang air besar?” jelasnya.

Segala kenikmatan dari Allah Swt yang gratis ini, Allah Swt hanya memerintahkan kepada umat manusia agar beribadah. Selanjutnya Imron mengutip Suroh Adz-Dzaariyaat : 56 :

“Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun : Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)”

Tugas yang dimandatkan Allah Swt kepada kita hanya beribadah. Ibadah menurut Imron ada dua, pertama ibadah mahdloh (ibadah umum) dan ibadah ghoiru mahdloh (ibadah khusus).

Ibadah khusus, ibadah yang sudah ada ketentuannya, misalnya syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Kapan waktu pelaksanaannya, jumlah nishob-nya, jumlah rakaa’t-nya, bacaannya, sudah ditentukan.

Sementara ibadah umum, adalah semua perbuatan yang dilakukan atas dasar untuk mengabdi kepada Allah SWT.
“Semua amalan kita sehari-hari, profesi apapun yang diniatkan untuk Allah, untuk kebaikan dunia dan akhirat Insya Allah akan bernilai ibadah. Ini yang disebut oleh para ulama sebagai ibadah umum,” ujarnya.

Lebih lanjut suami dari Pustrini Hayati, S.Pd.I menegaskan, shalat adalah salah satu diantara dari sekian banyak ibadah yang bertujuan untuk mensyukuri atas kenikmatan Allah Swt yang sudah kita terima saat ini, terutama kenikmatan kehidupan, kesehatan dan hidayah yang saat ini kita rasakan bersama.

“Jadi shalat bukan karena ingin surga, bukan pula karena takut neraka. Tetapi shalat kita yang lima waktu dan shalat sunnah lainnya, kita lakukan karena kita cinta kepada Allah SWT yang sudah memberi segalanya untuk kita. Shalat kita juga sebagai wujud seorang hamba untuk selau bersyukur atas kenikmatan yang sudah kita terima sampai hari ini. Dua lobang hidung kito ngadep ke bawah. Cubo kalu lobangnyo ke pucuk, pasti kalu hujan kito susah nak nyari tutup hidup supayo dak kemasukan banyu hujan. Rambut kito, diatur secara rapi. Antara rambut yang satu dan lainnyo dak samo pertumbuhannyo. Cubo kalu rambut hidung ini tumbuhnyo samo dengan rambut kepala, nak cak mano kito ngatur panjangnyo rambut hidung. Kalu di dunio ini, la banyak tukang cukur rambut hidung,” ujar Imron setengah berkelakar untuk mengingatkan kita tentang kewajiban bersyukur.

Pada kesempatan yang sama, Nur Wahid, S.Sos, Ketua Pengurus Mushola Huzaibah Salim menyampaikan ucapan terima kasih kepada jemaah yang sudah menyempatkan hadir malam itu.

“Alhamdulillah, pada malam ini kita bisa melaksanakan peringatan Isra’ dan Mi’raj di Mushola ini. Dan ini adalah pertama kali kita laksanakan. Terima kasih kepada jemaah yang sudah hadir. Insya allah ke depan kita akan tingkatkan kegiatan lain, terutama shalat tarawih. Sebab tidak lama lagi kita akan memasuki Bulan Ramadhan,” ujarnya.

Nur Wahid juga mengarapkan agar kegiatan yang baru pertama digelar itu bisa menjadi awal untuk melaksanakan kegiatan lainnya. Tujuannya untuk meramaikan Mushola dengan kegiatan kegamaan di komplek 87 Residence.**

TEKS / FOTO : AYIN (SUPARMANTO).
EDITOR : TI REDAKSI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *