Bagikan Artikel

Pagi masih cerah. Matahari baru menyembul dari balik bukit. Menyambut mentari, para penghuni hutan berkumpul di sebuah tempat.

Di hadapan mereka ada sebuah goa yang kemudian menjadi tempat biasa berkumpul dan musyawarah hewan penghuni hutan.

Tampak diantaranya sudah datang Gajah, Beruang, Semut dan hewan lainnya. Tak ketinggalan pula Burung Gagak yang bertengger di dahan Pohon Jati. Semua penghuni hutan rimba datang tepat waktu. Namun kali itu Si Kancil belum tampak. Kancil memang punya kebiasaan datang terlambat. Semua hewan sudah paham dengan watak Si Kancil.

Pagi itu sejumlah hewan sedang menunggu kedatangan Peri Hutan yang ditugaskan Tuhan menyampaikan berita dari langit.

“Salam sejahtera, para penghuni Hutan Rimba!” sapa Peri Hutan. Seketika suara itu mengejutkan hewan yang sedang berkumpul di tempat itu.

“Salam Peri Hutan,” jawab mereka serempak.

“Eh, dimana Si Kancil? Apakah dia belum bangun tidur?” tanya Peri Hutan.

“Hmm.. tadi aku sudah mengajaknya Peri, tapi ia menyuruhku datang lebih dulu karena jalanku lamban,” kata Gajah yang pagi itu terlihat murung akibat tak berhasil mengajak Kancil.

Sesaat kemudian, Peri Hutan menyuruh Burung Gagak memanggil Kancil. Tapi dalam saat yang bersamaan, tiba-tiba Kancil sudah muncul. Ia melompat seenaknya. Tak ada beban dan rasa malu saat datang terlambat. Kancil dengan gaya yang lincah membuat gaduh barisan hewan yang tadinya rapi.

“Halo.. teman-teman selamat pagi! Kancil yang cerdas dan lincah sudah hadir!” kata Kancil sambil melompati beberapa hewan kecil.

“Hei Kancil, jaga sikapmu di hadapan Peri Hutan!” kata Beruang dengan penuh wibawa.

“Sudah. Tidak apa-apa yang penting semua penghuni hutan telah berkumpul. Karena aku akan mengabarkan pesan dari Tuhan untuk kalian,” kata Peri Hutan.

“Apa pesannya Peri Hutan?” semut tak sabar menunggu kabar.

“Kalian dengarkan baik-baik,” kata Peri Hutan.

Semua hewan diam. Mata mereka tertuju pada Peri Hutan. Dalam beberapa detik mereka menunggu ujaran yang akan keluar dari Peri Hutan.

“Musim dingin tahun ini akan tiba pada Bulan Desember. Jadi, kalian harus memgumpulkan bekal agar nanti kalian bisa berdiam diri dalam goa sambil beribadah kepada Tuhan,” ujar Peri Hutan mengawali pembicaraan.

“Wah, Tuhan sangat baik kepada kita. Telah mengutus Peri Hutan untuk mempersiapkan diri menghadapi musim dingin,” kata Burung Gagak.

“Tuhan selalu memberi kebaikan, tapi hanya sebagian mahluk tak bersyukur yang sering kali membalas kebaikan Tuhan dengan keburukan!” ujar Peri Hutan.

“Nah, sementara itu dulu yang bisa kukabarkan. Nanti aku akan datang lagi ke sini bila ada berita baru. Syaratnya kalian harus selalu beribadah setiap waktu agar Tuhan terus mencurahkan kasih sayangnya kepada seluruh penghuni hutan ini,” Peri Hutan lalu pergi untuk menyampaikan berita ke penghuni hutan lainnya.

“Mulai sekarang, kita harus mengumpulkan makanan untuk persiapan selama musim dingin nanti,” kata Beruang.

“Ah, kalau aku sih cukup sehari saja sudah bisa mengumpulkan banyak makanan. Jadi, kalian saja yang mengumpulkan makanan. Aku mau menghabiskan waktuku dengan bermain ke hutan lainnya,” kata Kancil seperti meremehkan pesan Peri Hutan.

“Kancil, jika tak disiapkan dari sekarang, nanti persediaan makananmu habis di musim dingin!” kata Gajah mengingatkan Kancil.

“Gajah..Gajah.. tak usah  menasihatiku. Kau urus saja dirimu sendiri. Badanmu memang besar tapi melawan Semut yang kecil saja kau kalah. Jadi, tak perlu kau menasihatiku,” jawab Kancil yang membuat Gajah bersedih. Melihat itu, ribuan Semut segera menghibur Gajah dan diikuti Burung Gagak.

Lain halnya dengan Beruang. Mendengar Kancil yang merendahkan Gajah, dia mulai marah. Tetapi dengan langkah yang lincah, Kancil segera pergi menghindari kemarahan Beruang.

Sejak mendapatkan berita itu, semua penghuni hutan mulai mengumpulkan makanan. Mereka menyisakan sebagian makakanannya di rumah masing-masing. Sementara Kancil tetap bersantai ria. Ia selalu menghabiskan makanan yang sudah ia dapat pada hari itu juga.

**

Bulan Desember masih dua bulan lagi, tapi tiba-tiba Peri Hutan datang lagi ke hutan. Burung Gagak segera mengabarkan semua penghuni hutan agar berkumpul di goa.

“Ada apa Peri Hutan datang tiba-tiba?” tanya Semut heran.

“Kabar darurat! Tuhan memutuskan akan mempercepat musim dingin di Bulan November!” kata Peri Hutan.

“Tak usah khawatir. Itu tandanya masih ada waktu satu bulan,” kata Kancil meremehkan kabar itu. Ia masih duduk santai bermalas-malasan karena kekenyangan.

“Pesanku bukan hanya itu Kancil. Aku juga membawa kabar, nanti sore akan ada angin badai datang di hutan ini. Sekarang semua penghuni hutan harus masuk goa untuk berlindung,” kata Peri Hutan.

“Mengapa Tuhan mengutus angin ke hutan ini? Apa salah kita?!” tanya Burung Gagak.

“Tuhan mengabulkan doa pepohonan yang terganggu manusia. Mereka menebang semaunya. Pohon meminta agar dihadirkan angin untuk mengusir manusia dari hutan ini,” jelas Peri Hutan.

“Kalau begitu, seluruh penghuni hutan harus masuk goa dan membawa semua persediaan makanan yang sudah dikumpulkan,” perintah Beruang.

Tanpa menyita waktu, semua penghuni hutan masuk goa. Mereka membawa persediaan makanan yang sudah mereka kumpulkan sebelumnya. Mendengar kabar itu, Kancil baru ada keinginan mengumpulkan makanan. Tetapi, sayangnya angin badai pun segera tiba.

Karena khawatir angin datang tiba-tiba, Beruang meminta Gajah untuk segera menutup pintu goa dengan batu besar. Gajah mendorong batu besar dengan belalainya dibantu penghuni hutan lainnya. Pintu goa tertutup.

Di dalam goa semua hewan khusyuk beribadah kepada Tuhan sebagai rasa syukur karena telah diselamatkan dari bencana. Sementara Kancil terduduk sedih. Ia tak memiliki persediaan makanan sedikit pun.

Tak mengira kalau badai angin akan datang selama satu bulan. Usai badai angin Tuhan juga akan mendatangkan musim dingin yang panjang. Saat itulah, Kancil sadar karena tak mau mendengarkan nasihat Gajah dan teman lainnya untuk menyisihkan sebagian makanan yang ia dapat seperti hewan lainnya.

Melihat Kancil yang sedih, tiba-tiba Gajah mengangkat Kancil dengan belalainya. Gajah meletakkan Kancil diatas punggungnya. Hewan lainnya kemudian ikut mengelilingi Kancil. Kancil menatap sekelilingnya dari atas punggug Gajah. Ia teringat semua kesalahan yang sudah ia lakukan kepada penghuni hutan rimba.

“Sudahlah, Kancil jangan bersedih. Kau masih bisa mengambil persediaan makananku,” kata Gajah.

Sikap Gajah yang peduli, membuat Kancil haru. Gajah yang selama ini diejek, justeru pada saat itu Gajah yang peduli pada dirinya. Kancil pun akhirnya meminta maaf kepada Gajah dan penghuni hutan lain atas semua yang telah ia lakukan. Kancil sadar dalam pergaulan dengan penghuni hutan tak boleh meremehkan pesan kebaikan dari teman-temannya.**

*)Dongeng sudah diterbitkan di Majalah Super Kidz Edisi  6

Penulis : Kak Fika

Ilustrasi : Safwan
Editor : Kak Im

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *