Bagikan Artikel

Jaman dahulu kala di suatu negeri yang jauh, hiduplah seorang Pangeran tampan dan bijaksana. Pangeran itu bernama Kemas Arifin. Pangeran adalah satu-satunya pewaris takhta kerajaan Palindra. Raja dan Ratu telah lama meninggal dunia saat kerajaan diserang oleh musuh. Sejak kecil Pangeran Arifin diasuh oleh abdi kerajaan bernama paman Kawi. Paman Kawi sudah menganggap Pangeran Arifin seperti anaknya. Beliau sangat menyayangi dan memanjakan Pangeran Arifin.

Suatu ketika Pangeran Arifin bertemu dengan gadis penjual kendi air. Pangeran tidak sengaja memecahkan kendi air milik Si Gadis.

“Maafkan aku karena tidak sengaja telah memecahkan kendi air milikmu,” ucap Pangeran.

“Tidak apa-apa Pangeran. Kendi ini tidak ada harganya jika dibandingkan dengan Pangeran,” jawab Si Gadis.

“Aku akan menggantinya dengan koin emas kerajaan,” ucap Pangeran.

“Tidak perlu Pangeran. Sungguh kendi ini tidak bernilai apa-apa,” jawab Si Gadis.

Melihat kebaikan dan ketulusan hati Si Gadis membuat Pangeran terketuk hatinya untuk menawarkan pekerjaan di istana.

“Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika engkau bekerja padaku? Ikutlah bersamaku ke istana dan akan kujadikan engkau kepala keuangan istana,” ujar Pangeran.

“Apakah hamba pantas untuk posisi tersebut Pangeran? Hamba tidaklah terpelajar seperti bangsawan dan pegawai istana lainnya,” jawab Si Gadis.

“Tidak masalah, engkau akan dibimbing oleh pamanku. Beliau orang yang sangat pandai dan bijaksana,” tambah Pangeran.

Akhirnya Si Gadis menyetujui permintaan Pangeran. Keesokan harinya Pangeran menyampaikan berita kepada seisi istana bahwa akan ada kepala keuangan istana yang baru. Semua pejabat istana sangat senang mendengar berita tersebut. Betapa terkejutnya seluruh pejabat mengetahui bahwa kepala keuangan istana yang baru adalah seorang perempuan.

“Apakah keputusan Pangeran sudah dipikirkan masak-masak?” tanya penasihat istana.

“Bagaimana mungkin aku mengambil keputusan dengan tergesa-gesa paman penasihat,” jawab Pangeran.

“Belum pernah ada dalam sejarah bangsa kita bahwa pemegang jabatan di istana adalah seorang perempuan Pangeran,” jawab penasihat istana.

“Ya, memang benar. Tetapi tidak ada salahnya memberikan posisi ini kepada seorang perempuan. Aku sudah melihat sendiri kebaikan dan ketulusan hatinya,” tegas Pangeran.

Hari pertama menjadi kepala keuangan istana, Si Gadis banyak mempelajari seluk-beluk istana. Mulai dari pemasukan kas istana, sampai apa saja pembelanjaan keperluan istana. Si Gadis terkejut menemukan fakta bahwa ada salah satu pejabat istana yang selama ini berlaku tidak adil. Uang kas istana selama ini diselewengkan tanpa sepengetahuan Pangeran. Sang Pangeran sangat murka mendengar kabar yang disampaikan Si Gadis.

“Apa yang harus kita lakukan untuk menemukan siapa pelakunya?” tanya Pangeran.

“Kita dapat menggunakan seekor kambing Pangeran,” jawab Si Gadis.

“Apa yang bisa dilakukan oleh seekor kambing yang bahkan tidak bisa berbicara?” tanya Pangeran dengan heran.

“Kita akan memberikan masing-masing pegawai istana satu ekor kambing. Kita sampaikan kepada semua pejabat istana bahwa keesokan hari nya kambing dari orang yang berbohong tersebut tidak akan berubah menjadi hitam warna bulunya,” ucap Si Gadis.

“Lalu apakah kambing tersebut memang sakti dan dapat menemukan siapa pelakunya?” tanya Pangeran.

“Mari kita lihat saja keesokan harinya Pangeran. Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang,” jawab Si Gadis.

Pangeran kemudian memerintahkan Si Gadis membeli kambing sebanyak jumlah pejabat istana yang ada. Keesokan harinya Pangeran memerintahkan seluruh pejabat istana untuk berkumpul. Pangeran menyampaikan bahwa telah terjadi kecurangan yang menyebabkan kas istana berkurang secara misterius. Tidak bermaksud menuduh siapa pun, Pangeran segera memerintahkan Si Gadis untuk membawa masuk semua kambing yang telah dibeli.

“Wahai abdi setiaku. Aku akan memberikan masing-masing kalian satu ekor kambing. Bawalah pulang kambing ini untuk satu malam. Barangsiapa yang kambingnya tidak berubah menjadi hitam esok hari, maka ia lah yang selama ini berlaku curang kepada istana,”ucap Pangeran.

Semua pejabat Nampak heran dan panik memikirkan nasib mereka. Pelaku sebenarnya pun tak kalah ketakutan mendengar ucapan Pangeran.

“Bagaimana jika kambing ini esok hari tidak berubah warnanya?” ucap penasihat istana.

“Tenang saja penasihat, jika kita berlaku jujur selama ini maka pasti kambing kita esok akan berubah menjadi warna hitam,” ujar panglima.

Keesokan harinya Pangeran dan Si Gadis memeriksa kembali satu per satu kambing yang dibawa pulang oleh para pejabat istana. Mereka  semua takut dan cemas karena ternyata kambing mereka tidak ada yang berubah warna menjadi hitam. Hanya kambing milik Juru Masak istana yang menjadi hitam. Melihat hal tersebut Pangeran sangat murka. Ternyata orang-orang yang mengabdi kepada istana selama ini adalah pembohong. Hanya Juru Masak istana yang jujur dan setia. Didalam hati Juru Masak istana mengucap banyak syukur karena telah diselamatkan dari masalah besar. Kemudian Si Gadis pun mulai berbicara.

“Maaf jika hamba lancang yang mulia. Hamba ingin menjelaskan kepada semua orang bagaimana cara kita menemukan pelaku sebenarnya,” ucap Si Gadis.

“Baiklah aku mengizinkan engkau untuk berbicara,” jawab Pangeran.

“Sesungguhnya kambing yang hamba beli hanya kambing biasa bukan kambing yang sakti Pangeran. Barangsiapa yang berlaku curang kepada istana maka kambingnya tidak akan berubah warna menjadi hitam adalah tipu daya semata. Jujur atau pun tidak kambing-kambing itu tidak dapat berubah warna yang mulia,” ujar Si Gadis.

“Lalu mengapa kemarin engkau mengatakan hal yang sebaliknya?” tanya Pangeran.

“Hamba mengatakan hal tersebut untuk mengelabuhi pelaku sebenarnya. Tidak ada yang namanya kambing sakti yang mulia. Kambing yang kemarin hamba beli adalah kambing biasa. Pelaku yang sebenarnya akan merasa cemas jika saja kambing yang diberikan kepadanya tidak berubah warna. Maka dia akan berupaya mengubah warna kambingnya,” jelas Si Gadis.

“Bagaimana hal tersebut tidak terpikir olehku. Sungguh pemikiranmu sangat cerdas kepala keuangan,” puji Pangeran.

“Hamba hanya berusaha menemukan jalan keluar dari permasalahan ini saja yang mulia,” jawab Si Gadis.

“Sebagai hukuman untuk ketidaksetiaan Juru Masak kepada istana maka aku memutuskan untuk mengusir Juru Masak istana dari negeri ini,” tegas Pangeran.

“Tidak yang mulia, hamba mohon jangan usir hamba dari negeri ini. Hamba tidak tahu harus pergi kemana lagi yang mulia,” pinta si Juru Masak.

“aku tidak akan mengubah keputusanku, ini adalah hukuman bagi yang melanggar dan berkhianat!” jawab Pangeran.

Sejak saat itu tidak ada lagi yang berani melakukan kecurangan seperti yang dilakukan oleh Juru Masak istana. Kerajaan Palindra makmur dan aman dibawah kepemimpinan Sang Pangeran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *