Bagikan Artikel

Bel telah berbunyi tanda pelajaran telah usai. Setelah pulang sekolah Adi bergegas ke toko mainan Pak Bejo untuk membeli mainan Robot Gundam terbaru yang sudah lama sangat ia inginkan. Pak Bejo adalah seorang yang menyukai anak-anak. Ia memiliki beberapa cabang toko mainan di berbagai kota. Jadi, ia hanya sesekali mampir ke kota ini.

Adi begitu senang, karena hari ini akhirnya ia bisa membeli mainan kesukaan itu dengan uang yang ia kumpulkan sendiri. Meski Adi dbesarkan di keluarga yang berkecukupan, Adi selalu diajarkan untuk mandiri sejak kecil. Adi  diajarkan untuk menyisihkan uang sakunya untuk membeli mainan kesukaannya. Sesampai di toko mainan, ia langsung menuju rak yang sudah tersusun rapi mainan Robot Gundam dari berbagai ukuran. Adi langsung mengambil satu buah Robot Gundam dan langsung membayarnya di kasir yang kebetulan dijaga Pak Bejo.

“Terima kasih Pak Bejo!!,” kata Adi dengan semangat.

“Sama-sama Adi, selamat bermain sampaikan salamku pada ayahmu,” balas Pak Bejo.

Besok adalah hari Minggu, ia sudah berjanji akan bermain bersama dengan sahabatnya Budi dan Rio. Budi dan Rio sudah menceritakan jika mereka telah dibelikan ayahnya Robot Gundam dengan ukuran yang besar.

Namun saat keluar dari toko mainan Pak Bejo, Adi melihat seorang ibu pedagang asongan sedang bersusah payah membujuk anaknya untuk berhenti menangis. Anak itu sepertinya juga menginginkan Robot Gundam yang menjadi favorit anak-anak di kota tempat tinggal Adi.

“Ayo sayang.. berhenti menangis, kita harus pulang dulu untuk memasak. Pasti ayahmu sudah menunggu kita di rumah,” Ibu Pedagang Asongan itu terus membujuk anaknya. Tapi sayangnya anak kecil itu terus menangis.

Anak kecil itu semakin menangis sejadi-jadinya di gendongan ibunya.   Sang Ibupun semakin bersusah payah hingga membuat barang dagangannya jatuh di trotoar yang dilintasi warga kota yang menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan ini.

Melihat kejadian itu Adi merasa iba. Ia segera ingin menghampiri Ibu Pedagang Asongan dan anaknya yang masih menangis itu. Adi berniat akan memberikan mainan yang baru saja ia beli dengan uang saku yang sudah susah payah ia kumpulkan. Namun tiba-tiba niatnya terhenti, semua orang berdiri diam seperti patung yang ada di museum hanya Adi yang bisa bergerak. Adi maerasa aneh sekaligus takut ia memegang erat mainan Robot Gundam yang baru ia beli.

Tiba-tiba saja sesosok makhluk tinggi besar dengan mata berwarna merah muncul dari sisi kiri Adi.

“Hohoho hei Adi, kamu mau kemana?”, tanya makhluk itu dengan suara tawanya yang menggelegar.

“Kamu siapa dan dari mana asalmu?”, tanya Adi dengan ketakutan.

“Tenang Adi, aku temanmu. Namaku Godam aku berasal dari dunia anta berantah,” jawab makhluk itu.

“Aku tidak pernah mengenalmu, kau mau apa datang kemari?”, tanya Adi lagi.

“Sudah kukatakan, aku ini temanmu. Aku ingin kau memikirkan ulang niatmu untuk memberikan mainan yang baru kau beli ke anak kecil itu. Kau tak maukan besok  diejek oleh Budi dan Rio karena tidak memiliki mainan itu? hohoho,” bujuk Godam agar Adi mengurungkan niatnya untuk memberikan mainan kesayangan yang baru saja ia beli.

“Benar juga kau Godam, lagi pula nanti anak kecil itu akan berhenti menangis secara sendirinya,” Adi menyetujui apa yang dikatakan Godam. Godampun segera merangkul Adi dan berbalik arah menuju jalan pulang.

Namun saat Adi ingin berputar arah tiba-tiba Godam berteriak kesakitan. Ia segera melepas tangannya dari Adi.

“Ada apa Godam?,” tanya Adi.

“Adi, Godam itu bukan temanmu ia adalah musuhmu!!!,” seorang berwajah tampan dengan matanya yang sejuk berada di sisi kanan Adi.

“Siapa kau?,” tanya Adi.

“Adi aku adalah Khoiri, teman baikmu yang sesungguhnya. Jangan kau dengarkan Godam, Dia ingin mencelakakanmu!! Percayalah padaku Adi,” Khoiri menjelaskan panjang lebar.

“Dia yang berbohong Adi. Akulah temanmu, dia tak memikirkan betapa malunya dirimu besok saat Budi dan Rio tahu kau tak memiliki robot mainan itu,” Godam masih terus membujuk Adi.

“Adi, masih ingatkah kau nasehat ayahmu tentang pintu rahasia,” Khoiri mencoba mengingatkan Adi tentang pintu rahasia.

“Ya, Khoiri tentu saja aku ingat. Ayah selalu menjelaskan saat kita melakukan kebaikan maka saat itu juga Tuhan membukakan pintu kebaikan untuk kita. Namun jika kita tidak melakukannya maka pintu itu akan tertutup lagi bahkan akan terkunci selamanya,” jawab Adi menirukan pesan ayahnya.

“Tapi, bagaimana dengan rencanaku bermain dengan Budi dan Rio,” jawab Adi engan nada yang murung.

“Santai saja Adi, kau kan masih punya mainan robot jenis lain. Lalu kau bisa kembali menabung untuk membeli  mainan yang baru,” Khoiri menasehati Adi.

Adi melepaskan tangan Godam, lalu Godam tiba-tiba terbakar terkena cahaya dari sebuah pintu kebaikan yang terbuka.

“Panas.. tunggu pembalasanku Khoiri”, Godam hancur seketika dan menghilang.

“Ayo Adi…,” Khoiri mengajak Adi memasuki pintu kebaikan yang penuh cahaya.

Tiba-tiba suasana kembali ke dunia nyata. Adi kembali melihat anak kecil yang menangis itu suaranya kian nyaring menunjuk mainan robot yang sedang dipegang Adi.

Adi melihat Khoiri yang mengangguk untuk semakin memantapkan hati Adi untuk memberikan mainan yang baru saja ia beli itu.

Adi mendekati ibu itu, kemudian membantu membereskan dagangannya yang tercecer.

“Terima kasih Nak, sudah membantu,” Ibu Pedagang Asongan mengucapkan terima kasih kepada Adi.

“Sama-sama Bu, ini mainan untuk Adik Kecil. Adik kecil jangan menangis lagi ya,” Adi memberikan mainannya kepada anak kecil itu hingga membuatnya  berhenti menangis. Anak itupun berhenti menangis ia tertawa senang dan memegan erat mainan yang diberikan oleh Adi. Ibu Pedagang Asongan pun mengucapkan terima kasih kepada Adi.

“Terima kasih banyak nak, semoga Allah membalas kebaikanmu Nak..” kata Ibu Pedagang Asongan.

“Makasih Kak..”, ucap Adik Kecil itu dengan tertawa riang kepada Adi.

“Sama-sama Dik, selamat bermain,” ucap Adi lalu berbalik mencari Khoiri yang sudah tidak terlihat lagi.

Saat ingin segera pulang, tiba-tiba Pak Bejo menghampiri Adi saat melintas di depan toko mainan miliknya sembari mengulurkan sekotak mainan yang sama persis dengan yang diberikan kepada Adik Kecil tadi.

“Pak Bejo..!,” Adi seakan tak percaya melihat Pak Bejo sang pemilik toko mainan yang baru saja ia kunjungi itu menghampirinya.

“Ini Robot Gundam terbaru buatmu sebagai ganti dari mainan yang kau berikan kepada Anak Kecil tadi  dan ini satu buah kaos ekslusif bergambar Robot Gundam buatmu dan alat tulis untukmu,” Pak Bejo segera memberikan Robot Gundam dan sebuah kaos ekslusif  kepada Adi.

Pak Bejo ternyata ingin memberikan mainan kepada Anak Kecil itu. Namun ia menundanya karena memperhatikan Adi  yang ikhlas memberikan mainan kepada Anak Kecil itu.

“Te..terima kasih Pak Bejo,” jawab Adi seakan tak percaya dengan kejadian yang baru ia alami. Ia teringat pesan KKhoiri yang mengingatkan tentang saat kita berbuat baik maka satu pintu kebaikan juga akan terbuka untuk kita. ##

Penulis : Kak Fika

Ilustrasi : Kak Safwan
Editor : Kak Im

*) Diperbaharui dari Majalah Super Kidz Edisi 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *