Bagikan Artikel

Suatu hari seekor Ayam Kampung gelisah dengan dirinya. Dalam hatinya protes kepada Tuhan : Mengapa aku diciptakan sebagai ayam?  Mengapa aku tidak diciptakan sebagai manusia?

“Hei! pagi-pagi sudah melamun. Pagi ini kamu sudah sumbang telur belum?” tanya ayam petelur lain dalam satu kandang.

“Malas,” jawabnya pendek.

“Ini kewajiban, karena tuan kita sudah memberi makanan setiap hari!” ujar temanya lagi.

“Sudah satu pekan tak ada ayam jago yang mengawiniku, jadi aku tak bisa bertelur. Apalagi, aku juga

sudah bosan jadi ayam,” katanya ketus.

Seketika, ayam  lain yang mendengar tertawa. Hampir separo kandang ayam milik Andi pagi itu jadi gemuruh oleh tertawaan ratusan ayam.

“Memang tidak boleh?!” tanya Ayam  Kampung penasaran.

“Itu namanya melawan takdir! Tuhan sudah ciptakan kita jadi ayam, ya sudaah terima saja!” ujar ayam yang lain.

“Tapi aku ingin jadi manusia, sebab manusia adalah mahluk sempurna, punya akal pikiran dan…!” ujar ayam kampung. Kalimat terputus karena ayam lainnya memotong pembicaraan.

“Hei..hei..jangan sok membanggakan manusia, ya!  Kitalah yang lebih mulia dari manusia,” ujar Ayam Potong.

“Mana bisa kita akan lebih mulia dari manusia, kalau kita tidak jadi mereka!?” protes Ayam Kampung.

“Bisa! Sebab tugas kita bertelur dan member gizi hewani pada setiap manusia. Sementara manusia, kalau sudah bejat akhlaknya, harga dirinya bisa lebih rendah dari  hewan,” tegas Ayam Potong yang kemudian berlalu.

Sesaat, Ayam Kampung termenung. Namun seketika, lamunannya hilang saat Ayam Bangkok merangkulnya.

“Jangan khawatir kawan,” Ayam Bangkok mencoba menghibur Ayam Kampung yang galau.

Ayam lain termangu. Mereka ingin mendengar kalimat  apa  yang  akan disampaikan Ayam Bangkok pada Ayam Kampung.

“Aku bisa menolongmu,” ujar Ayam Bangkok menatap Ayam Kampung.

“Benarkah?” mata Ayam Kampung berbinar. Kedua berpelukan.  Ayam Kampung  seolah mendapat jalannya untuk menjadi manusia.

“Besok pagi, kau harus pura-pura sakit,” ujar Ayam Bangkok.

“Kenapa harus begitu?” tanya Ayam Kampung penasaran.

“Kalau kau sakit, maka tuan Andi akan mengambilmu dan memotongmu. Dan kelak kau akan menyatu dengan manusia, dan jadilah kau bersama manusia!” saran Ayam Bangkok.

“Haruskah aku menebus ini dengan kematianku?” Ayam Kampung mulai sedih karena harus meninggalkan keluarga dan teman-temannya.

Beberapa ayam kemudian merapat, merayu Ayam Kampung untuk mengurungkan niatnya.

“Sudahlah, kita terima saja apa yang sudah digariskan Tuhan pada kita. Tak perlu kau membayar ini semua dengan nyawamu. Kami akan kehilanganmu,” ujar ayam yang lain.

Beberapa butir air meleleh dari pojok mata Ayam Kampung dan juga sebagian teman-temannya.

“Bagaimana? Kau siap?!” tanya Ayam Bangkok memastikan niat Ayam Kampung.

**

Pagi menjelang siang, Andi sedang menyiapkan sebuah sajian untuk menyambut kedatangan Presiden Persatuan Peternak Ayam Palembang (P3AP) ke rumahnya. Beberapa ayam sudah disipakannya. Namun pagi itu Andi melihat Ayam Kampung tergolek lesu di kandang.  Sepertinya, Ayam Kampung sengaja semalaman tidak makan, hingga badannya menggigil dan panas. Ia tak berdaya.

Tak urung juga, pagi itu Ayam Kampung dipotong Andi, bersama puluhan ayam lain yang disiapkan untuk para tamu undangan. Dengan mengucap Bismillahi Allahu Akbar, darah mengucur dari puluhan leher ayam, termasuk satu diantaranya Ayam Kampung.  Mereka menggelepar  dan beberapa detik kemudian tak bergerak.

Siraman Air panas mengguyur sekujur tubuh puluhan ayam. Bulunya habis. Isi perutnya dikeluarkan. Dagingnya dipotong. Andi dan teman lainnya kemudian melumuri daging ayam dengan bumbu : ketumbar, lada, kemiri, bawang merah, bawang putih, pala, jinten dan bumbu lainnya.

Puluhan ayam dan Ayam Kampung  juga siap diungkep dalam sebuah panci besar  di atas api lebih dari 100 drajat celsius.  Sementara, Andi dan teman-temannya Presiden menyiapkan beberapa pemanggang daging.  Sekitar 1 jam, puluhan ayam sudah mengeluarkan aroma harum. Dagingnya siap disantap. Tak ketinggalan Ayam Kampung yang terakhir diambil dari kandang.

Puluhan piring lonjong disiapkan di meja besar.  Terlihat kemudian, daging ayam sudah terhidang dengan lalap ketimun dan sambal trasi. “Mari kita makan,” ajak Andi kepada Presiden P3AP, puluhan tamu lainnya yang hadir.

Spontan, Presiden P3AP memimpin doa sebeum makan.  “Supaya makanan yang kita makan ini berkah, mari kita berdoa  bersama,” ajak Tuan Presiden.  “Allahumaa baarik lana, fii ma rozak  tana, waqina ‘adzaa bannaar. Bismillahirohmaa-niirohiim…,” doa selesai. Mereka bersantap dengan lahap.

Perlahan, daging ayam, termasuk Ayam Kampung masuk dalam mulut para tamu. Beberapa jam kemudian daging itu menyatu dalam aliran darah Tuan Presiden dan para tamu.

“Alhamdulillahirobbil Alamiin. Aku sekarang sudah menyatu dengan manusia. Dagingku sudah mengalir dalam urat nadi Tuan Presdien dan para tamu.  Terima kasih, Tuhan. Kau telah satukan aku dengan manusia. Kini aku sudah sederajat dengan manusia, meski aku harus menebusnya dengen kematian…,” ruh Ayam Kampung terdengar diantara ayam di kandang Andi.

“Kita bersyukur punya teman seperti Ayam Kampung. Demi kehormatan dia berani pertaruhkan nyawanya. Ayam Kampung mau berkorban hingga tetes darah penghabisan demi kemuliaan di mata Tuhan, lalu apakah kita juga akan melakukan hal yang sama? Kalau Ayam Kampung  berani, sementara kita, atau bahkan manusia tidak berani, maka berarti harga kita lebih rendah dari Ayam Kampung!” ujar Ayam Bangkok.**

Penulis : Kak Im

Ilustrasi : Kak Safwan

*)Tulisan sudah diterbitkan di Majalah Super Kidz Edisi 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *